Sore itu (9 Maret 2008) gerimis menemani perjalanan kami dari surabaya menuju porong sidorjo. Hari sudah gelap, mungkin karena awan yang menghalangi jatuhnya sinar matahari. Dinginnya Rintik-rintik air yang jatuh ke bumi terkalahkan oleh panasnya semburan lumpur panas. Hawa penderitaan penduduk sekitar diiringi rintik-rintik gerimis hujan menyempurnakan penderitaan kala itu.
Terlihat burung-burung bertengger di atas ranting pohon yang telah lama mati. Pohon itu mungkit tingginya sekitar 5 meter. Panasnya lumpur telah menimbun batang pohon yang kokoh dan mati dibuat olehnya. Heran kami melihatnya. Burung-burung itu setia dengan pohon yang sudah mereka anggap rumah sendiri. Ranting-ranting yang kering, panas dan tanpa daun itu tidak dihiraukannya. dianggapnya sama seperti dulu ketika pohon itu menaungi mereka dengan rimbunnya daun-daunnya, melindungi mereka dan anak-anak nya dari panasnya sinar matahari.
Di luar sana terlihat pohon yang kokoh, dengan daun hijaunya yang rimbun, yang sebenarnya dapat mereka jadikan tempat tinggal yang nyaman. Tapi mereka tetap bertahan di kampung mereka, yang telah lenyap diterpa panasnya lumpur. Apakah rumah itu lebih mahal dari segalanya? Apakah tidak sebaiknya melupakannya dan membuka lembaran hidup baru? Ataukah mereka menunggu ganti rugi? Atukah ….? Ataukah ….? Seribu Pertanyaan menghinggapi pikiranku. Tapi yang jelas bumi terus berputar dan hidup harus terus diperjuangkan. Semoga diberi kesabaran dalam menghadapi cobaan ini.

April 23, 2008 at 6:01 am
sungguh penderitaan tersebut harus berakhir …………